Kotim merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki luasan wilayah yang cukup besar dengan jumlah penduduk dan pola penyeberaannya tidak merata. Dengan kondisi yang demikian menimbulkan berbagai masalah khususnya untuk proses pengelolaan pendidikan ujung -ujungnya peserta dididik yang khususnya yang berada di daerah pelosok bernasib kurang mujur sebab untuk bisa bersekolah dengan teratur, ketersediaan serana peninjang dan infrastruktur tenaga pendidik yang tidak memadai .
Meski bukan sekolah formal, semangat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mentaya Estetika Sampit untuk mengikuti perkembangan teknologi cukup tinggi. Terbukti, para peserta didik dari PKBM Mentaya Estetika Sampit di Kabupaten Kotim semangat akan mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada 2018 ini.
Namun demikian, semangat mereka untuk mengikuti perkembangan teknologi ini perlu mendapat respons dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur khususnya untuk penyediaan fasilitas Wifi dan Komputer. Sebab, disdik belum bisa memberikan bantuan berupa perangkat komputer untuk mendukung proses pembelajaran dan menyiapkan UNBK tahun ini.
Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang di tahun 2017 yang lalu, ada 10 PKBM di Kota Malang yang mengikuti UNBK. Dari program paket B (setara SMP), terdapat 362 siswa dan untuk paket C (setara SMA), ada 626 siswa. Namun, pelaksanaan UNBK PKBM digelar dengan menumpang di sembilan sekolah, ada yang di SMK, ada pula yang di SMP. Mereka melaksanakan UNBK selama empat hari
Selain itu, ada yang masih melaksanakan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP). Total ada 58 peserta paket B yang mengikuti UNKP, yakni dari Pondok Pesantren Ulum As-Syar’iyah sejumlah 38 peserta dan Pondok Pesantren Darutta’lim Wadda’wah sejumlah 20 peserta.
Presiden Direktur PKBM Ki Hadjar Dewantara Nurrokhman W. berharap, jika UNBK paket C tahun 2017 ini berjalan lancar, pemerintah hendaknya memberikan fasilitas yang memadai, seperti bantuan komputer. Sebab, sistem UNBK tidak menggunakan cara manual (tulis tangan), semestinya PKBM dibantu fasilitas seperti komputer, server (sistem komputer), dan jaringan internet yang menunjang.
Sejalan dengan pemberitaan pengelola PKBM yang ada di luar pulau Kalimantan khususnya PKBM yang berada didaerah Kota Malang yang juga merasakan hal serupa dengan PKBM yang ada di Kotim, maka ketersedian fasilitas penunjang merupakan permasalahan yang cukup serius dan mesti harus tersedia dalam pelaksanaan UNBK. Bagi penyelenggaraProgram paket C pada tahun 2018 khususnya, bagi PKBM yang memiliki gedung sendiri harus melaksanakan UNBK hanya saja tidak semua PKBM memiliki pasilitas penunjang dan sarana berupa gedung pembelajaran.
Pengelola PKBM Mentaya Estetika Sampit, menyatakan, "untuk mengikuti UNBK tahun 2018 memerlukan fasilitas penunjang dan jaringan internet/ Wifi yang memadai selain itu perlu waktu khusus untuk melakukan sebuah sosialisai dan pelatihan (try out) baik bagi pembina/tutor maupun peserta ujian nantinya", maklum saja untuk peserta yang belajar di PKBM Mentaya Estetika Sampit tidak semuanya bisa mengoperasikan Komputer".
Harapan dari pengelola PKBM Mentaya Estetika Sampit saat ini adalah bagaimana Kadisdik Kabupaten Kotim memberikan solusi untuk pelaksanaan UNBK bagi peserta paket C yang hampir keseluruhan pesertanya masih banyak yang belum bisa menggunakan komputer dan apa yang harus dilakukan agar kegiatan UNBK bisa terlaksana dengan sistem komputerisasi.
Setidak-tidaknya ada surat rujukan atau penunjukan kerja sama dari Kadisdik Kotim kepada sekolah-sekolah formal yang mempunyai fasilitas komputer dan jaringan internet kepada PKBM yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur. Mudah-mudahan dengan adanya kejelasan kondisi dan kekurangan yang masih banyak dari PKBM yang ada di Kabupaten Kotim ini pemerintah pusat melalui perwakilannya Kadisdik Kotim bisa memberikan kebijakan kalau tahun 2018 khususnya peserta ujian nasional paaket C bisa dipertimbangkan lagi dengan sistem koputerisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar