Mengungkap Dunia Pendidikan Kesetaraan
Apa sih...pendidikan kesetaraan itu?Banyak dari masyarakat kita mungkin tidak faham apa sebenarnya pendidikan kesetaraan, seperti apa teknis dan bagaimana cara belajarnya.
Pendidikan kesetaraan pada dasarnya adalah sebuah pendidikan nonformal yang dilaksanakan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang kerena banyak hal tidak bisa menjalani pendidikan formal sebagaimana mestinya.
Banyak masalah yang menimpa masyarakat terutama masalah ekonomi yang tidak mendukung dalam pembiayaan selama sekolah. Namun tidak hanya masalah ekonomi juga yang menjadi latar belakang kenapa memilih pendidikan kesetaraan (non formal) diantaranya masalah kekerasan fisik di sekolah, sakit yang terlalu lama, jarak sekolah dengan tempat tinggal, masalah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan lain sebagainya.
Banyak masalah yang menimpa masyarakat terutama masalah ekonomi yang tidak mendukung dalam pembiayaan selama sekolah. Namun tidak hanya masalah ekonomi juga yang menjadi latar belakang kenapa memilih pendidikan kesetaraan (non formal) diantaranya masalah kekerasan fisik di sekolah, sakit yang terlalu lama, jarak sekolah dengan tempat tinggal, masalah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan lain sebagainya.
Dalam dunia pendidikan kesetaraan baik Paket A, B maupun Paket C peserta belajar disebut "WARGA BELAJAR", bukan siswa, mungkin dengan sebutan warga belajar ini dirasa lebih mengena dan sesuai untuk peserta belajar dalam proses belajar pada Program Kesetaraan. Memang unik sekali belajar pada program Kesetaraan khususnya latar belakang warga belajar, jadwal dan cara belajar, usia warga belajar bahkan tenaga pengajar/tutor pun memiliki sebuah keunikan.
Dari beberapa penyelenggara Pendidikan Kesetaraan yang ada di Sampit Khususnya latar belakang warga belajar yang terdaftar sebagai warga belajar pendidikan kesetaraan adalah pekerja/buruh yang bekerja di perusahaan-perusahaan perkebunan sawit, sedikit sekali yang berlatar belakang putus sekolah dikarenakan masalah-masalah sosial yang lainnya bisa disimpulkan kebanyakan dari warga belajar yang ada di Sampit putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi.
Adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri untuk seluruh pengelola dan penyelenggara Program Pendidikan Kesetaraan khususnya untuk memberikan kepastian jadwal dan kerutinitasan kepada para warga belajar, terutama bagi warga belajar yang bekerja pada perusahaan.
Untuk tahap awal mungkin kebanyakan dari warga belajar mau dan bisa mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh lembaga penyelenggara namun untuk jangka waktu berikutnya ketentuan jadwal mungkin sudah tidak berlaku lagi. Warga belajar yang tadinya bisa rutin datang karena faktor pekerjaan, mutasi tempat bekerja atau pun pergantian waktu jam kerja menyebabkan warga belajar tidak bisa memenuhi jadwal yang sudah disepakati bersama. Pada akhirnya dalam menentukan waktu ataupun jadwal belajar tidak dapat dipertahankan, bahkan yang sangar disayangkan adalah warga belajar bisa memutuskan untuk keluar dalam kegiatan ini.
Kembali kepada peranan utama adanya Program Pendidikan Kesetaraan seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa adanya Program Pendidikan Kesetaraan A, B dan C pada dasarnya ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terutama yang belum menuntaskan pendidikan formalnya sehingga mendapakat kesetaraan/kesamaan dalam status pendidikan, akan tetapi pada kenyataanya lagi-lagi kita pun diperlihatkan dengan kondisi yang hampir-hampir tidak memungkinkan memberikan pendidikan maksimal kepada warga belajar layaknya pendidikan yang terselenggara pada pendidikan formal.
Sebagai seorang praktisi pendidikan nonformal khususnya Pendidikan Kesetaraan A, B dan C kami
Adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri untuk seluruh pengelola dan penyelenggara Program Pendidikan Kesetaraan khususnya untuk memberikan kepastian jadwal dan kerutinitasan kepada para warga belajar, terutama bagi warga belajar yang bekerja pada perusahaan.
Untuk tahap awal mungkin kebanyakan dari warga belajar mau dan bisa mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh lembaga penyelenggara namun untuk jangka waktu berikutnya ketentuan jadwal mungkin sudah tidak berlaku lagi. Warga belajar yang tadinya bisa rutin datang karena faktor pekerjaan, mutasi tempat bekerja atau pun pergantian waktu jam kerja menyebabkan warga belajar tidak bisa memenuhi jadwal yang sudah disepakati bersama. Pada akhirnya dalam menentukan waktu ataupun jadwal belajar tidak dapat dipertahankan, bahkan yang sangar disayangkan adalah warga belajar bisa memutuskan untuk keluar dalam kegiatan ini.
Kembali kepada peranan utama adanya Program Pendidikan Kesetaraan seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa adanya Program Pendidikan Kesetaraan A, B dan C pada dasarnya ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terutama yang belum menuntaskan pendidikan formalnya sehingga mendapakat kesetaraan/kesamaan dalam status pendidikan, akan tetapi pada kenyataanya lagi-lagi kita pun diperlihatkan dengan kondisi yang hampir-hampir tidak memungkinkan memberikan pendidikan maksimal kepada warga belajar layaknya pendidikan yang terselenggara pada pendidikan formal.
Sebagai seorang praktisi pendidikan nonformal khususnya Pendidikan Kesetaraan A, B dan C kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar